Mahasiswa TKJ PNUP Belajar Konvergensi Teknologi Digital dari Pakar Teknologi UGM

Perkembangan teknologi informasi dewasa ini mampu merambah segala bidang kehidupan. Teknologi informasi tidak hanya digunakan secara langsung untuk mengeksploitasi potensi teknologi itu sendiri, terapi juga mampu memunculkan dan bahkan mengubah tatanan, budaya, dan mekanisme dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari hal itu, Program Studi Teknik Komputer dan Jaringan (prodi TKJ) Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) menggelar Kuliah Umum di Kampus I PNUP, Selasa (7/3/2017).

Kuliah Umum tersebut mengangkat tema Konvergensi Teknologi Digital dalam Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan pembicara Pakar Teknologi Informasi dan Komunikasi dari UGM, Ir Lukito Edi Nugroho M Sc PhD. Ketua Prodi TKJ PNUP, Fajri Raharjo ST MT mengatakan Kuliah Umum tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan tambahan pengetahuan bagi mahasiswa dan dosen prodi TKJ PNUP terkait perkembangan teknologi informasi dan komunikasi khususnya digital. Melalui kuliah umum, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa sehingga mereka dapat memperoleh pengetahuan dasar dan praktis mengenai konvergensi teknologi digital serta bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari termasuk untuk pendidikan.

Bagi prodi TKJ PNUP sendiri, Kuliah Umum memberikan gambaran mengenai perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi dalam kaitannya dengan perkembangan pembelajaran dan kurikulum. Lukito Edi Nugroho memaparkan peran yang dapat dimainkan oleh teknologi informasi di perguruan tinggi yaitu sebagai integrator program dan kegiatan perguruan tinggi, sebagai enabler bagi perbaikan/penyempurnaan proses-proses akademik dan administratif serta munculnya layanan-layanan baru yang inovatif, memperluas akses seluruh warga kampus, serta sebagai transformer. Dalam kaitannya dengan transformasi budaya dalam pemanfaatan teknologi informasi, dosen UGM yang meraih gelar master dan doktor dari Australia itu menyampaikan bahwa setiap mahasiswa harus mampu membangun image yang berbeda melalui diferensiasi diri sehingga memiliki nilai jual dan orang lain bisa membacanya melalui sikap dan sepak terjang di media sosial.

Membangun diferensiasi diri dapat dilakukan baik secara vertikal maupun secara horizontal. Secara vertikal, diferensiasi diri dapat terbangun apabila mahasiswa memiliki kedalaman spesialisasi ilmu tertentu sedangkan secara horizontal terbangun apabila mahasiswa memiliki wawasan yang luas. Di negara-negara barat, media sosial yang digunakan oleh para pelamar atau pencari kerja sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengetahui latar belakang seseorang. Oleh karena itu, Lukito Edi Nugroho berpesan agar mahasiswa menggunakan segala bentuk teknologi digital secara bijak dan smart untuk berinteraksi karena karakter diri seseorang dapat terbaca melalui media sosial yang dimiliki seseorang.

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *